BAB I
PENDAHULUAN
A. LatarBelakang Masalah
Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, perkembangan dan kelangsungan hidup masyarakat akan terpelihara dengan baik. Oleh karena itu, pendidikan telah menjadi suatu kebutuhan hidup guna mencari kehidupan yang diarahkan pada kemajuan dan perkembangan ke arah yang lebih baik dari kehidupan sebelumnya.
Pendidikan Islam, seperti pendidikan pada umunya berusaha membentuk pribadi manusia, harus melalui proses yang panjang dengan hasil yang tidak dapat diketahui dengan segera. Oleh karena itu dalam pembentukan tersebut diperlukan suatu perhitungan yang matang dan hati-hati berdasarkan pandangan dan rumusan-rumusan yang jelas dan tepat.
Sehubungan dengan hal tersebut pendidikan Islam harus memahami dan menyadari betul apa sebenarnya yang ingin dicapai dalam proses pendidikan. Sesuatu yang ingin dicapai tersebut dalam istilah pendidikan disebut dengan “Tujuan Pendididkan.”
Tujuan pendidkan masalah sentral dalam pendidikan. Sebab, tanpa perumusan yang jelas tentang tujuan pendidikan, perbuatan menjadi acak-acakan, tanpa arah, bahkan bisa salah langkah. Oleh karena itu, perumusan tujuan dengan tegas dan jelas menjadi inti dari seluruh pemikiran pedagogis dan perenungan filosofi ( 1992: 204).
Dikatakan lebih lanjut bahwa tujuan pendidikan itu penting, disebabkan karena secara implicit dan eksplisit di dalamnya terkandung hal-hal yang sangat asasi, yaitu pandangan hidup dan filsafat hidup pendidikannya, lembaga penyelenggara pendidikan, dan Negara.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari pendidikan Islam?
2. apa definisi dari “Tujuan” itu?
3. Apa saja tujuan Pendidikan Islam?
4. Bagaimana formulasi tujuan pendidikan Islam?
5. Prinsip-prinsip apa saja yang terdapat dalam formulasi pendidikan Islam?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian dari pendidikan Islam
2. Mengetahui definisi dari “Tujuan” itu
3. Mengetahui tujuan Pendidikan Islam
4. Bagaimana formulasi tujuan pendidikan Islam
5. Mengetahui Prinsip-prinsip yang terdapat dalam formulasi pendidikan Islam
D. Sistematika Penulisan
Dalam makalah ini, kami mengkaji lebih dalam akan tujuan dalam pendidikan Islam, adapun sistematika penuliasannya dapat diuraikan sebagai berikut :
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Sistematika Penulisan
BAB II TUJUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengertian Pendidikan Islam
B. Definisi Tujuan
C. Tujuan Pendidikan Islam
D. Formulasi Tujuan Pendidikan IslamPrinsip-Prinsip dalam Formulasi Tujuan Pendidikan Islam
BAB III PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
TUJUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengertian Pendidikan Islam
Istilah pendidikan dalam konteks Islam telah banyak dikenal dengan menggunakan term yang beragam, yaitu at-tarbiyah, at-ta’lim, at-ta’bid. Masing-masing istilah itu mempunyai makna dan pemahaman yang berbeda, walaupun memiliki kesamaan makna dalam beberapa hal tertentu. Pemakaian ketiga istilah istilah tersebut, terlebih lagi jika pengkajiannya didasarkan atas sumber pokok ajaran Islam ( Alquran dan Assunnah ). Selain akan memberikan pemahaman yang luas tentang pengertian pendidikan Islam, secara substansial-filosofis pun akan memberikan gambaran mendalam tentang bagaimana sebenarnya hakikat dari Pendidikan Islam.
Pendidikan dapat diartikan secara sempit dan dapat pula diartikan secara luas.
Secara sempit dapat di artikan, “ bimbingan yang diberikan kepada anak-anak sampai ia dewasa.” Sedangkan pendidikan dalam arti luas adalah segala sesuatu yang menyangkut proses perkembangan dan pengembangan manusia, yaitu upaya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai bagi anak didik, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan itu menjadi bagian dari kepribadian anak yang pada pada gilirannya menjadi orang pandai, baik, mampu hidup dan berguna bagi masyarakat. ( Ali, M Natsir. 1997:23).
Syeh Naquib At attas (1984:60) dalam hal ini menyatakan, bahwa pendidikan berasal dari kata ta’dib. Memang terdapat kata lain yang berkaitan dengan pendidikan selain ta’dib, yakni tarbiyah. Akan tetapi tarbiyah lebih menekankan pada mengasuh, menanggung, memberi makan, memelihara, dan menjadikan bertambah dalam pertumbuhan.
Selain itu Naqib (1997:59) dalam hal ini menyatakan bahwa penekanan pada adab yang mencakup dalam amal pendidikan dan proses pendidikan adalah untuk menjamin bahwa ilmu dipergunakan secara baik dalam masyarakat. Karena alasan inilah maka orang-orang bijak terdahulu mengkombinasi ilmu dengan amal dan adb menganggap kombinasi harmonis ketiganya sebagai pendidikan.
Pendidikan memang bukan sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, pendidikan mental, jasmani, dan intelek semata. Akan tetapi bagaimana pengetahuan, penbinaan mental, jasmani, dan intelek semata. Akan tetapi, bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang telah didapatkan dipraktekan dalam perilaku sehari-hari.
Ahmad Tafsir (1995:6) ) memaknai pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan seseorang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan Ahmad D. Marimba ( 2005: 9 ) mengartikan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan ruhani berdasarkan hokum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ketentuan-ketentuan Islam. Yang dimaksud dengan kepribadian utama adalah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany (1979 : 403) mengartikan pendidikan Islam sebagai perubahan yang diinginkan dan diusahakan oleh proses pendidikan, baik pada tataran kehidupan sosial, serta pada tataran rekasi dengan alam sekitar atau pengajaran sebagai aktivitas asasi dan sebagai proporsi di anatara profesi-profesi dalam masyarakat. Pendidikan Islam memfokuskan perubahan tingkah laku manusia yang konotasinya pada pendidikan etika. Disamping itu, pendidikan Islam juga menekankan aspek produktifitas dan kreatifitas manusia sehingga mereka bisa berperan serta berprfesi dalam kehidupan masyarakat.
Dari beberapa batasan dan pengertian pendidikan Islam di atas, secara implicit dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah aktivitas bimbingan yang disengaja untuk mencapai kepribadian muslim, baik yang berkenaan dengan dimensi jasmani, ruhani, akal, maupun moral.
B. Definisi Tujuan
Istilah “Tujuan” atau “Sasaran” atau “Maksud” dalam bahasa Arab dinyatakan dengan ghayat atau ahdaf atau maqasid. Sedangkan dalam bahasa Inggris, istilah “Tujuan” dinyatakan dengan goal, purpose, objective atau aim secara umum. Istilah-istilah itu mengandung pengertian yang sama, yaitu arah suatu perbuatan atau yang hendak dicapai melalui upaya aktivitas.
Tujuan menurut Zakiah Darajat (2006:133) , adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. Sedangkan menurut H.M. Arifin (1991:222) tujuan itu bisa jadi menunjukan kepada futuritas atau masa depan yang terletak suatu jarak tertentu yang tidak dapat dicapai kecuali dengan usaha melalui proses tertentu. Meskipun banyak pendapat tentang pengertian tujuan, akan tetapi pengertian itu pada umumnya berpusat pada usaha atau perbuatan yang dilaksanakan untuk suatu maksud tertentu.
Menurut Abdurrahman An-Nahlawi (1963:67) dalam bukunya yang berjudul Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam menyebutkan bahwa tujuan mengarahkan aktivitas, mendorong untuk bekerja dan membantu mencapai keberhasilan. Selain itu, menentukan tujuan mempunyai kepentingan yang membuat tujuan itu menjadi kebutuhan mutlak bagi setiap macam tingkah laku yang sadar.
C. Tujuan Pendidikan Islam
Dikatakan oleh Dr. Zakiah Darajat (1997:41) bahwa tujuan pendidikan Islam secara keseluruhan yaitu berkepribadian seseorang yang membuatnya menjadi Insan Kamil dengan pola taqwa. Insan Kamil artinya manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena takwanya kepada Allah SWT. Ini mengandung arti bahwa pendidikan Islam diharapkan mengahsilkan manusia yang berguna bagi dirinya dan masyarakatnya serta senang dan gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam dalam berhubungan dengan Allah dan dengan sesamanya dapat mengambil manfaat yang semakin meningkat dari alam semesta ini untuk kepentingan hidup di dunia kini dan akhirat nanti.
Ada beberapa tujuan pendidikan yang perlu kita ketahui, yaitu sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan ini meliputi seluruh aspek kemanusiaan yang meliputi sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan, dan pandangan. Tujuan umum ini berbeda pada setiap tingkat umur, kecerdasan, situasi dan kondisi dengan kerangka yang sama. Bentuk insan kamil dengan pola takwa harus dapat tergambar pada pribadi seseorang yang sudah dididik walaupun dalam ukuran yang kecil dan mutu yang rendah sesuai dengan tingka-tingkat tersebut.
Cara atau alat yang paling efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan ialah pengajaran. Karena itu, pengajaran sering diidentikkan dengan pendidikan, meskipun istilah ini sebetulnya tidak sama.
Tujuan umum pendidikan Islam harus dikaitkan pula dengan tujuan pendidikan nasional Negara tempat pendidikan Islam itu dilaksanakan dan harus dikaitkan pula dengan tujuan institusional lembaga yang menyelenggarakan pendidikan itu. Tujuan umum itu tidak dapat dicapai kecuali setelah melalui proses pengajaran, pengalaman, pembiasaan, penghayatan, dan keyakinan akan kebenarannya. Tahapan-tahapan dalam mencapai tujuan itu pada pendidikan formal (sekolah/madrasah) dirumuskan dalam bentuk tujuan kurikulum yang selanjutnya dikembangkan dalam tujuan instruksional.
Berbeda dengan tujuan tertinggi yang lebih mengutamakan pendekatan filosofis, tujuan umum lebih bersifat empiris dan realistik. Tujuan umum berfungsi sebagai arah yang taraf pencapaiannya dapat diukur karena menyangkut perubahan sikap, perilaku, dan kepribadian peserta didik. Dikatakan umum karena berlaku pada siapa saja tanpa dibatasi ruang dan waktu, dan menyangkut diri peserta didik secara total.
Pendidikan adalah upaya pengembangan potensi atau sumebr daya insan Berarti telah mampu merealisasikan ( self realisation), menampilkan diri sebagai pribadi yang utuh (pribadi muslim). Proses pencapaiian realisasi diri tersebut dalam istilah spikologi disebut becoming, yakni proses menjadikan diri dengan keutuhan pribadinya. Sedangkan untuk sampai pada keutuhan pribadi dperlukan proses perkembangan tahap demi tahap yang disebut proses development .
Semebnara itu, para ahli pendidikan Islam merumuskan pula tujuan umum pendidikan Islam ini, diantaranya :
a. Al-Abrasyi (1974 : 15) misalnya, dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan lima tujuan umum bagi pendidikan Islam, yaitu:
1) Untuk mengadakan pembentukan akhlak yang mulia. Kaum muslimin dari dahulu kala sampai sekarang setuju bahwa pendidikan Islam, dan bahwa mencapai akhlak yang sempurna adalah tujuan pendidikan yang sempurna.
2) Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat.
3) Persiapan untuk mencapai rezeki dan pemilihan segi mamfaat atau yang lebih terkenal saat ini dengan nama tujuan-tujuan vokasional dan professional.
4) Menumbuhkan semangat ilmyah pada pelajar dan memuaskan keingin tahuan (curiocity) dan memungkinkan ia mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri.
5) Menyiapan pelajar dari segi professional, teknikan dan pertukangan supaya dapat menguasai profesi tertentu, dan keterampilan pekerjaaan tertentu agar ia dapat mencari rizqi dalam hidup di samping memelihara segi kerohanian dan keagamaan.
b. Menurut Abdul Fattah Jalal (1988:119) tujuan umum pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus. Dengan mengutip surat At-Takwir ayat 27, Jalal menyatakan bahwa tujuan itu adalah untuk semua manusia. Jadi, menurut Islam pendidikan harus menjadikan manusia menjadi manusia yang menghambakan diri kepada Allah SWT.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus adalah pengkhususan atau operasional tujuan tertinggi/terakhir dan tujuan umum (pendidikan Islam). Tujuan khusus bersifat relative sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan dimana perlu sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan, selama tetap berpijak pada kerangka tujuan tertinggi/terakhir dan umum itu. Pengkhususan tujuan tersebut dapat didasarkan pada :
a. Kultur dan cita-cita suatu bangsa
b. Minat, bakat, dan kesanggupan subyek didik
c. Tuntutan situasi, kondisi pada waktu tertentu
Hasan Langulung (1989:64) mencoba merumuskan tujuan khusus yang mungkin dimasukkan di bawah menumbuhkan semangat agama dan akhlak adalah antara lain sebagai berikut :
1) Memperkenalkan kepada generasi muda akan akidah Islam, dasar-dasarnya, asal-usul ibadat dan cara-cara melaksanakannya dengan betul dan membaiasakan mereka berhati-hati memasuki akidah-akidah agama serta menjalankan dan menghormati syiar-syiar agama;
2) Menumbuhkan kesadaran yang betul pada diri pelajar terhadap agama termasuk prinsip-prisnp dan dasar-dasar akhlak mulia;
3) Menanamkan keimanan kepada Allah pencipta alam, kepada malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab dan hari kiamat berdasarkan pada paham kesadaran dan perasaan;
4) Menumbuhkan minat generasi muda untuk menambahkan pengetahuan keagamaan dan untuk mengikuti hukum-hukum agama dengan penciptaan dan kerelaan;
5) Menanamkan rasa cinta dan penghargaan kepada Alquran, membcanhya dengan baik, memahaminya, dan mengamalkan ajaran-ajarannya;
6) Menumbuhkan rasa bangga tehrhadap sejarah dan kebudayaan Islam dan pahlawan-pahlawannya sefrta mengikuti jejak mereka;
7) Menumbuhkan rasa rela, optimis, percaya diri, tanggung jawab, menghargai kewajiban, tolong-menolong atas kebaikan dan takwa, kasih saying, cinta kebaikan, sabara berjuang untuk kebaikan, memegang teguh pada prinsip, berkorban untuk agama dan tanah air, dan bersiap untuk membelanya;
8) Mendidik naluri, motivasi keinginan generasi muda, dan menguatkannya dengan akidah dan nilai-nilai, dan membiasakan mereka menahan motivasinya, mengatur emosi dan bimbingannya dengan baik, begitu juga mengajar mereka baik di rumah, di sekolah, atau dimana saja.
Ali Ashraf menawarkan tujuan pendidikan Islam dengan terwujudnya penyerahan mutlak kepada Allah SWT, pada tingkat individu, masyarakat, dan kemanusiaan pada umumnya. Tujuan umum itu merupakan kristalisasi dari tujuan khusus pendidikan Islam. Adapun tujuan khusus pendidikan Islam menurut Ali Ashraf
a. Mengembangkan wawasan spiritual yang semakin mendalam serta mengembangkan pemahaman rasional mengenai Islam dalam konteks kehidupan modern;
b. Membekali anak muda dengan berbagai pengetahuan dan kebajikan, baik pengetahuan praktis, kekuasaan, kesejahteraan, lingkungan social, dan pembangunan nasional;
c. Mengembangkan kemampuan pada diri peserta didik untuk menghargai dan membenarkan superioritas komperatif kebudayaan dan peradaban islami di atas semua kebudayaan lain;
d. Memperbaiki dorongan emosi melalui pengalaman imajinatif, sehingga kemampuan kreatif dapat berkembang dan berfungsi mengetahui norma-norma Islam yang benar dan yang salah;
3. Tujuan Akhir
Pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir. Tujuan umum yang berbentuk insan kamil dengan pola takwa dapat mengalami perubahan naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan, dan pengalaman, dapat mempengaruhinya. Karena itulah, pendidikan Islam mengembangkan, memelihara, dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai. Orang yang sudah takwa dalam bentuk insan kami masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya pemeliharaan supaya tidak luntur dan berkurang, meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal.
Menurut Abu Ahmadi tujuan ini bersifat mutlak, tidak mengalami perubahan dan berlaku umum, karena sesuai dengan konsep ketuhanan yang mengandung kebenaran mutlak dan universal. Tujuan tertinggi tersebut dirumuskan dalam suatu istilah yang disebut insan kamil (manusiap paripurna).
Dalam tujuan pendidikan Islam, tujuan tertinggi/terakhir ini pada akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia, dan peranannya sebagai mahluk ciptaan Allah. Dengan demikian, indikator dari insan kamil menurut Abu Ahmadi (1992:45-46) sebagaimana yang dikutip oleh Ramayulis dan Syamsul Nizar dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
a. Menjadi hamba Allah
Tujuan ini sejalan dengan tujuan hidup dan penciptaan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dalam hal ini pendidikan harus memungkinkan manusia memahami dan menghayati tentang tuhannya sedemikian rupa, semua peribadatannya dilakukan dengan penuh penghayatan dan kehusuan terhadap-Nya melalui seremoni ibadah dan tunduk senantiasa pada syari’at dan petunjuk Allah. Tujuan hidup yang di jadikan tujuan pendidikan itu di ambilkan dari Alquran firman Allah Wst:
“Dan Aku (Allah) tidak menjadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku.” (Q.S Adz-dzariyat:56)
b. Menjadi Khalifah di bumi
Mengantarkan subjek didik menjadi khalifah Allah fi Al-Ardh, yang mampu memakmurkan bumi dan melestarikannya dan lebih jauh lagi, mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya, sesuai dengan tujuan penciptaannya, dan sebagai konsekuensi setelah menerima Islam sebagai pedoman hidup. Firman Allah Swt:
“ingatlah ketika Tuhan berfirman kepada para malaikat : sesungguhnya Aku hendak menjadikan seseorang khalifah di muka bumi.”
“Dia lah yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi dan meninggalkan beberapa di antara kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat……….”
(Q.S Al-An’am : 165)
c. Untuk memperoleh kesejahteraan kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat, baik individu maupun masyarakat.
Firman Allah SWT dalam surat Al-Qashash :77
“dan carilah apa yang di anugrahkan Allah kepada mu (kebahagiaan) kampong akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi.”
D. Formulasi Tujuan Pendidikan Islam
Abd Al-Rahman Shaleh Abd Allah dalam bukunya Educational Theory, a Quranic Outlook menyatakan tujuan pendidikan Islam dapat diklasifikasikan menjadi empat dimensi, yaitu:
a. Tujuan pendidikan jasmani (al-ahdaf al-jismiyah)
Mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas kekhalifahan di bumi, melalui keterampilan fisik
b. Tujuan pendidikan social (al-ahdaf al-ijtimaiyah)
Tujuan pendidikan social adalah pembentukan kepribadian yang utuh yang menjadi bagian dari komunitas sosial. Identitas individu di sini tercermin sebagai “al-nas” yang hidup pada masyarakat plural (majemuk)
c. Tujuan pendidikan rohani (al-ahdaf al- ruhaniyah)
Meningkatkan jiwa dari kesetiaan yang hanya kepada Allah SWT semata dan melaksanakan moralitas islami yang diteladani oleh Nabi SAW dengan berdasarkan pada cita-cita ideal dalam Alquran.
d. Tujuan pendidikan akal (al-ahdaf al-aqliyah)
Pengarahan intelegensi untuk menemukan kebenaran dan sebab-sebabnya dengan telaah tanda-tanmda kekuasaan Allah dan menemukan pesan-pesan ayat-Nya berimplikasi pada peningkatan keimanan kepada Sang Pencipta.
E. Prinsip-Prinsip Dalam Formulasi Tujuan Pendidikan Islam
1. Prinsip Universal (syumuliyyah)
Yakni prinsip yang memandang keseluruhan aspek agama (akidah, ibadah, dan akhlak, serta muamalah), manusia (jasmani, rohani, dan nafsani), masyarakat dan tatanan kehidupannya, serta adanya wujud jagat raya dan hidup.
2. Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan (tawazun qa iqtishadiyah).
Prinsip ini adalah keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan pada pribadi, berbagai kebutuhan individu dan komunitas, serta tuntunan pemeliharaan kebudayaan silam dengan kebutuhan kebudayaan masa kini serta berusaha mengatasi masalah-masalah yang sedang dan akan terjadi.
3. Prinsip kejelasan (tabayun)
Yakni prinsip yang didalamnya terdapat ajaran dan hukum yang memberi kejelasan terhadap kejiwaan manusia (qolb, akal, dan hawa nafsu) dan hukum masalah yang dihadapi sehingga terwujud tujuan, kurikulum, dan metode pendidikan.
4. Prinsip tak bertentangan.
Prinsip yang di dalamnya terdapat ketiadaan pertentangan antara berbagai unsure dan cara pelaksanaannya, sehingga antara satu komponen dengan komponen yang lainnya saling mendukung.
5. Prinsip realisme dan dapat dilaksanakan
Prinsip yang menyatakan tidak adanya khayalan dalam kandungan program pendidikan, tidak berlebih-lebihan, serta adanya kaidah yang praktis dan realistis yang sesuai dengan fitrah dan kondisi sosioekonomi, sosiopolitik, dan sosiokultural yang ada.
6. Prinsip perubahan yang diingini
Prinsip perubahan struktur diri manusia yang meliputi jasmaniah, rohaniah, dan nafsaniah.
7. Prinsip menjaga perbedaan-perbedaan individu.
Prinsip yang memperhatikan perbedaan peserta didik, baik ciri-ciri, kebutuhan, kecerdasan, kebolehan., minat, sikap, tahap pematangan jasmani, akal, emosi, social, dan segala aspeknya
8. Prinsip dinamis dalam menerima perubahan dan perkembangan yang terjadi pelaku pendidikan serta lingkungan di mana pendidikan itu dilaksanakan.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Pendidikan Islam adalah aktivitas bimbingan yang disengaja untuk mencapai kepribadian muslim, baik yang berkenaan dengan dimensi jasmani, rohani, akal, maupun moral. Pendidikan Islam adalah proses bimbingan secara sadar seorang pendidik sehingga aspek jasmani, rohani, dan akal anak didik tumbuh dan berkembang menuju terbentuknya pribadi, keluarga, dan masyarakat yang islami.
Tujuan menurut Zakiah Darajat (2006:133) , adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. Sedangkan menurut H.M. Arifin (1991:222) tujuan itu bisa jadi menunjukan kepada futuritas atau masa depan yang terletak suatu jarak tertentu yang tidak dapat dicapai kecuali dengan usaha melalui proses tertentu. Meskipun banyak pendapat tentang pengertian tujuan, akan tetapi pengertian itu pada umumnya berpusat pada usaha atau perbuatan yang dilaksanakan untuk suatu maksud tertentu.
Tujuan dalam pendidikan Islam dapat dibagi menjadi beberapa tujuan, yaitu tujuan umum, tujuan khusus, dan tujuan akhir.
Dalam membahas formulasi tujuan pendidikan Islam, sekurang-kurangnya tujuan pendidikan Islam meliputi tujuan pendidikan jasmani, rohani, akal, dan pendidikan sosial.Adapun prinsip-prinsip yang diterapkan dalam formulasi tujuan pendidikan Islam diantaranya, Prinsip Universal (syumuliyyah);Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan (tawazun qa iqtishadiyah);Prinsip kejelasan (tabayun);Prinsip tak bertentangan dan; Prinsip realisme dan dapat dilaksanakan.
B. Saran
Pendidikan Islam terhadap pendidikan sangatlah besar. Dalam Alquran banyak ayat-ayat yang menerangkan masalah pendidikan. Pendidikan Islam memiliki sesuatu yang berbeda dengan pendidikan lainnya. Pendidikan Islam didasari pada sifat Rabbani (ketuhanan).
Pendidikan Islam yang di ajarkan dalam Alquran ternyata tidak mampu mengetuk hati manusia untuk mengembangkan pendidikan sesuai dengan ajaran Alquran. Pendidikan Islam menjadi pilihan yang kesekian untuk masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan. Masyarakat pada umumnya lebih percaya kepada pendidikan umum yang sebenarnya sudah di programkan oleh bangsa yahudi untuk melemahkan pendidikan Islam.
Hal ini menjadi tugas bagi kita sebagai umat Islam untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan berorientasi Alquran.
Untuk pencapaian tujuan pendidikan yang sesuai dengan ajaran Islam, maka diperlukan kerja sama yang baik antara pendidik, peserta didik, dan lingkungan. Jika salah satu komponen-komponen pendidikan tidak mendudkung atau tidak sejalan tujuan pendidikan yang diharapkan tidak akan tercapai. Kita sebagai calon pendidik harus berusaha semaksimal mungkin, untuk lebih memajukan dunia pendidikan.
Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Alquran sebagai pedoman hidup bagi manusia, sebagai peta untuk menuju kea rah kebaikan. Ingin sukaes dunia akhirat, baca Alquran, pelajari, dan amalkan. Wallahu a’lam
Minggu, 04 April 2010
Sabtu, 13 Februari 2010
Pendidikan Dalam Perspektif Alquran
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Individu manusia lahir dalam keadaan tanpa memiliki pengetahuan apapun, tetapi ia telah dilengkapi dengan fitrah yang memungkinkannya untuk menguasai berbagai pengetahuan dan peradaban. Dengan memfungsikan fitrah itulah manusia belajar dari lingkungan dan masyarakat orang dewasa yang mendirikan institusi pendidikan. Kondisi awal individu dan proses pendidikannya tersebut disyaratkan oleh Allah di dalam firman-Nya :
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu besyukur. (Q.S. Anhl, 16 : 78).
Tidak ada agama selain Islam dan tidak ada kitab suci selain Alquran yang demikian tinggi menghargai pendidikan dan ilmu pengetahuan. Islam sangat menghargai orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Dalam Alquran sudah jelas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu (Q.S. Al Mujadalah : 11).
Pendidikan merupakan persoalan penting bagi semua umat. Pendidikan selalu menjadi tumpuan harapan untuk mengembangkan dan memajukan peradaban manusia. Islam memberikan petunjuk supaya kita menjadi orang yang berilmu. Semuanya ada dalam Alquran.
Alquran sebagai sumber pokok ajaran Islam dan sebagai pedoman hidup umat Islam memiliki kandungan yang sangat banyak mengenai ilmu pengetahuan. Perhatian Islam ssterhadap pendidikan terbukti dengan diturunkannya wahyu pertama kepada Rasulullah, ketika beliau berada di Gua Hira yaitu Q.S Al ‘Alaq ayat 1-5.
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al ‘Alaq : 1-5).
Dalam wahyu pertama di atas Allah SWT memulai surat dengan memerintahkan untuk membaca yang timbul dari sifat ‘tahu’. Lalu menyebutkan penciptaan manusia secara khusus dan umum, menyebut nikmat-Nya dengan mengajarkan manusia apa yang ia tidak ketahui. Hal itu menunjukkan akan kemuliaan belajar dan ilmu pengetahuan.
Namun pada zaman globalisasi ini pendidikan kerap kali disalahgunakan. Orang yang berilmu tidak disertai dengan keimanan akan mengakibatkan buruk bagi perkembangan dan kemajuan peradaban masyarakat. Banyaknya orang yang pandai namun dimanfaatkan untuk menipu masyarakat menjadi kendala kemajuan pendidikan. Selain itu, pendidikan yang dipelopori oleh bangsa Yahudi menjadi kendala yang perlu perhatian khusus untuk menanganinya.
Pendidikan Islam menjadi pilihan yang ke sekian untuk masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan. Masyarakat pada umumnya lebih percaya kepada pendidikan umum yang sebenarnya itu sudah diprogramkan oleh bangsa Yahudi untuk melemahkan pendidikan Islam.
Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Alquran ebagai pedoman hidup bagi manusia, sebagai peta untuk menuju ke arah kebaikan. Ingin sukses dunia akhirat, baca Alquran, pelajari, dan amalkan.
BAB II
PEMBAHASAN
PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN
A. Pengertian Pendidikan
Pendidikan dpat diartikan secara sempit dan dapat pula diartikan secara luas. Secara sempit dapat diartikan, “ bimbingan yang diberikan kepada anak-anak sampai ia dewasa.” Sedangkan pendidikan dalam arti luas adalah
Segala sesuatu yang menyangkut proses perkembangan dan pengembangan manusia, yaitu upaya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai bagi anak didik, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan itu menjadi bagian dari kepribadian anak yang pada gilirannya menjadi orang pandai, baki, mampu hidup dan berguna bagi masyarakat. (Ali, M Natsir. 1997 : 23).
Syed Naquib al Attas (1984 : 60) dalam hal ini menyatakan, bahwa pendidikan berasal dari kata ta’dib. Memang terdapt kata lain yang berkaitan dengan pendidikan selain ta’dib, yakni tarbiyah. Akan tetapi tarbiyah lebih menekankan pada mengasuh, menanggung, memberi makan, memelihara, dan menjadikan bertambah dalam pertumbuhan.
Selain itu Naqib (1997 : 59) menyatakan bahwa penekanan pada ‘adab yang mencakup dalam amal pendidikan dan proses pendidikan adalah untuk menjamin bahwa ilmu dipergunakan secara baik dalam masyarakat. Karena alasan inilah maka orang-orang bijak terdahulu mengkombinasikan ilmu dengan amal dan adab dan menganggap kombinasi harmonis ketiganya sebagai pendidikan.
Pendidikan memang bukan sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, pembinaan mental, jasmani, dan intelek semata. Akan tetapi bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang telah didapatkan dipraktekan dalam perilaku sehari-hari.
Dengan mengutip rumusan hasil seminar Pendidikan Islam se-Indonesia di Cipayung Bogor tanggal 7-11 Mei 1960, H.M. Arifin menyatakan bahwa pendidikan (Islam) adalah :
Sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.
Istilah membimbing, mengarahkan, dn mengasuh serta mengajarkan dan melatih mengandung pengertian usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui proses setingkat menuju tujuan yang ditetapkan, yaitu menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran, sehingga terbentuklah manusia yang berpribadi dan berbudi luhur sesuai ajaran Islam.
Dari pengertian pendidikan yang dinayatakan oleh H.M. Arifin setidaknya ada tiga poin yang dapat disimpulkan. Pertama, pendidikan Islam menyangkut aspek jasmani dan riohani. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu pembinaan terhadap keduanya harus seimbang.
Kedua, pendidikan Islam mendasarkan konsepsinya pada nilai-nilai religius. Ini berarti bahwa pendidikan Islam tidak mengabaikan faktor teologis sebagai sumber ari ilmu itu sendiri. Sebagaimana Firman Allah
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya kemudian mengemukakannya kepada malaikat, lalu berfirman : Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Al Baqoroh : 31).
Ayat di atas menunjukkan adanya epistimologi dalam Islam, yakni bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari yang satu, Allah SWT. Dia-lah pendidik yang pertama dan utama. Tidak ada pendidikan yang terjadi di dunia ini tanpa Allah SWT.
Ketiga, adanya unsur takwa sebagai tujuan yang harus dicapai. Sebagaimana kita ketahui, bahwa takwa merupakan benteng yang dapat berfungsi sebagai daya tangkal terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang datang dari luar.
B. Tujuan Pendidikan dalam Islam
Pendidikan Islam berhubungan erat dengan agama Islam itu sendiri, lengkap dengan akidah, syariat, dan sistem kehidupannya. Pendidikan Islam dibangun atas keimanan dan ketaqwaan, ilmu dan pengetahuan, amal shaleh, dan akhlak. Pendidikan Islam bersifat Rabbani (Ketuhan-an), sebab mengacu pada Allah. Sifat tersebut membuat pendidikan Islam mejadi berbeda dengan pendidikan lainnya.
Tujuan agama Islam adalah memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi manusia dengan memerintahkan untuk tunduk, bertaqwa, dan beribadah dengan baik kepada Allah. Tujuan ini terlihat dalam firman Allah:
Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang berttaqwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). (QS. Qaf: 31)
Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah-Ku (QS. Adz Dzariyat : 56)
1. Tujuan Umum
Tujuan Umum pendidikan Islam berkesinamungan dengan tujuan agma Islam, yaitu mendidik manusia agar tunduk, bertaqwa, dan beribadah dengan baik hanya kepada Allah. Tujuan pendidikan Islam yang utama adalah untuk meng-Esakan Allah SWT.
Manusia akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat bila memegang teguh pada ajaran Islam. Allah mengutus para Rasul membawa risalah untuk menyelamatkan hidup manusia, menjadi pendidik dan guru bagi manusia. Jejak para rasul kemudian diteruskan oleh para sahabat, para ulama yang oleh Rasulullah dikatakan sebagai pewaris para Nabi.
2. Tujuan Khusus
a. Mendidik individu manusia yang saleh dengan memperhatikan segenap dimensi perkembangannya : rohaniah, emosional, sosial, intelektual, dan fisik.
b. Mendidik anggota kelompok sosial yang shelah, baik dalam keluarga maupun masyarakat muslim.
c. Mendidik manusia yang saleh bagi masyarakat insani yang besar.
C. Pendidikan Dalam Perspektif Alquran
Islam memandang pendidikan sebagai proses yang terkait dengan upaya mempersiapkan manusia untuk mampu memikul tugas sebagai khalifah di bumi. Untuk melaksnakan tugasnya, Allah membekali manusia dengan potensi berupa akal dan kemampuan untuk belajar.
Ingatlah ketika Tuanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “ mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “ sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya kemudian mengemukakannya kepada malaikat, lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu orang-orang yang benar!” mereka menjawab, “Mahasuci Engkau tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”. (QS. Al Baqoroh : 30-32).
Alquran sebagai wahyu dan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW selalu menjadi pusat sorotan karena daya pikatnya yang luar biasa. Keindahan dan keistimewaan Alquran itu terletak pada aspek-aspeknya, antara lain bahasa dan gaya bahasanya, substansi, kesempurnaannya, keterjaminannya darii pencampuran dengan bahasa manusia, jangkauannya yang tiada terbatas, dan multifungsinya bagi umat manusia. Jika manusia berpegang teguh kepadanya, hidup manusia tidak akan tersesat. Itu adalah janji Allah.
Berbagai penelitian dan pembahasan, baik yang dilakukan oleh pakar Islam sendiri maupun oleh orientalis menyimpulkan bahwa Alquran memiliki muatan yang universal bagi kehidupan manusia secara keseluruhan, salah satu diantaranya bagaimana konsep Alquran berbicara masalah pendidikan.
Paradigma pendidikan dalam Alquran tidak lepas dari tujuan Allah SWT menciptakan manusia itu sendiri, yaitu pendidikan penyerahan diri secara ikhlas kepada sang Kholik yang mengarah pada tercapainya kebahagiaan hidup dunia maupun akhirat, sebagaimna Firman-Nya dalam QS. Adz-Dzariyat: 56 :
Tidak semata-mata kami ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah (QS. Adz Dzariyat : 56)
Menurut Armai Arief (2007:175) " bahwa tujuan pendidikan dalam Alquran adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok, sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah SWT. dan kholifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang diciptakan Allah".
Pendidikan dalam perspektif Alquran dapat dilihat bagaimana Luqman Al-Hakim memberikan pendidikan yang mendasar kepada putranya, sekaligus memberikan contohnya, juga menunjukkan perbuatannya lewat pengamalan dan sikap mental yang dilakukannya sehari-hari dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Diantara wasiat pendidikan 'monumental' yang dicontohkan Luqman lewat materi billisan dan dilakukannya lewat bilamal terlebih dahulu adalah: Jangan sekali-kali menyekutukan Allah, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, jangan mengikuti seruan syirik, ingatlah bahwa manusia itu pasti mati, hendaklah kita tetap merasa diawasi oleh Allah, hendaklah selalu mendirikan sholat, kerjakan selalu yang baik dan tinggalkan perbuatan keji, jangan suka menyombongkan diri, sederhanalah dalam berpergian, dan rendahkanlah suaramu.
Walaupun sederhana materi dan metode yang diajarkan Luqman Al-Hakim kepada putranya termasuk kepada kita semua yang hidup di jaman modern ini, namun betapa cermat dan mendalam filosofi pendidikan serta hikmah yang dimiliki Luqman untuk dapat dipelajari oleh generasi berikutnya sampai akhir jaman.
Konsep pendidikan dalam perspektif Alquran yang direfleksikan Allah SWT dalam QS. Lukman: 12-19.
Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Luqmman, yaitu : " bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepada anaknya: "Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu adalah benar-benar kedzaliman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia terhadap dua orang ibu-bapak; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuannya tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberikan kepadamu apa yang telah engkau kerjakan.
(Luqman berkata): "Hai anakkua, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui". Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah engkau memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanalah engkau dalam berjalan dan lunakkan suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.
Ketokohan Luqman Al-Hakim seperti dijelaskan di atas merupakan suatu keniscayaan dalam dunia pendidikan, hingga dapat melahirkan para ahli pendidikan dibidangnya masing-masing sejak Alquran dilauncingkan oleh pembawa risalah terakhir Rosululloh Muhammad SAW empat belas abad yang lalu hingga sekarang bahkan sampai akhir jaman. Islam memandang dan memposisikan sendi-sendi keilmuan atau ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sesuatu yang sangat utama dan urgen. Ia merangkul iptek sedemikian rupa sehingga menganggap suci dan disamakan derajatnya dengan jihad bagi perjuangan orang-orang yang berilmu dan yang mencari ilmu, juga karya-karya yang mereka temukan tentang fenomena dan rahasia alam semesta ini. Hal ini dijelaskan dengan firman Allah
Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.(QS. Al Mujadilah : 11)
Ilmu pengetahuan yang dituju oleh Alquran menurut Widodo (2007: 161) adalah ilmu pengetahuan dengan pengertiannya yang menyeluruh, yang mengatur segala yang berhubungan dengan kehidupan dan tidak terbatas pada ilmu syariah dan akidah saja. Ia mencakup berbagai disiplin ilmu seperti ilmu sosial, ekonomi, sejarah, fisika, biologi, matematika, astronomi, dan geografi dalam bentuk gejala-gejala umum, general ideas, atau grand theory yang perlu dikem,bangkan lagi oleh akal manusia. Dalam pandangan yang bersifat internal-global, ilmu-ilmu dalam Alquran dapat dijabarkan ke dalam masalah-masalah akidah, syariah, ibadah, muamalah, akhlak, kisah-kisah lampau,berita-berita akan dating, dan ilmu pengetahuan ilahiah lainnya.
Demikian lengkapnya berbagai ilmu yang terdapat dalam Alquran, tidak terkecuali masalah sains dan matematika. Tentang term ini Fahmi Basya (1427H: 95) menjelaskan bahwa Matematika Islam ialah matematika yang menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagi postulat. Hal itu sejalan dengan apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW bahwa:
" Aku tinggalkan untuk kalian dua urusan, kamu tidakakan tersesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah (Alquran) dan Sunnah Rasul Allah (Hadits)."
Sebab itu masih menurut dia, dalam Matematika Islam, kita tidak lagi perlu membuktikan suatu data yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, sekalipun nanti dalam perjalananya, Matematika Islam seolah membuktikan kebenaran sunnah-sunnah Nabi. Data bilangan dari Alquran dan Nabi, diolah dan dibuat model matematikanya. Untuk memperjelas penemuannya dia mengutip QS. Al-Hasyr ayat 21 sebagai berikut :
Kalau Kami turunkan Alquran ini kepada gunung, sungguh kamu lihat dia tunduk terpecah belah dari takut kepada Allah. Dan Dan itu perumpamaan yang Kami adakan untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS. Al hasyr : 21)
Cuplikan ayat di atas menjelaskan bahwa Alquran adalah suatu Formula. Oleh karena itu diakhir ayat tadi dikatakan 'itu perumpamaan yang kami adakan untuk manusia supaya mereka berfikir. Fenomena ini menandakan bahwa Alquran berisi Sains yang perlu difikirkan.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Tidak ada agama selain Islam dan tidak ada kitab suci selain Alquran yang demikian tinggi menghargai pendidikan dan ilmu pengetahuan. Islam sangat menghargai orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Dalam Alquran sudah jelas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu (Q.S. Al Mujadalah : 11).
Alquran sebagai sumber pokok ajaran Islam dan sebagai pedoman hidup umat Islam memiliki kandungan yang sangat banyak mengenai ilmu pengetahuan. Perhatian Islam terhadap pendidikan terbukti dengan diturunkannya wahyu pertama kepada Rasulullah, ketika beliau berada di Gua Hira yaitu Q.S Al ‘Alaq ayat 1-5.
Pendidikan dalam perspektif Alquran dapat dilihat bagaimana Luqman Al-Hakim memberikan pendidikan yang mendasar kepada putranya, sekaligus memberikan contohnya, juga menunjukkan perbuatannya lewat pengamalan dan sikap mental yang dilakukannya sehari-hari dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Diantara wasiat pendidikan 'monumental' yang dicontohkan Luqman lewat materi billisan dan dilakukannya lewat bilamal terlebih dahulu adalah: Jangan sekali-kali menyekutukan Allah, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, jangan mengikuti seruan syirik, ingatlah bahwa manusia itu pasti mati, hendaklah kita tetap merasa diawasi oleh Allah, hendaklah selalu mendirikan sholat, kerjakan selalu yang baik dan tinggalkan perbuatan keji, jangan suka menyombongkan diri, sederhanalah dalam berpergian, dan rendahkanlah suaramu.
B. SARAN
Perhatian Islam terhadap pendidikan sangatlah besar. Dalam Alquran banyak ayat-ayat yang menerangkan masalah pendidikan. Pendidikan Islam memiliki sesuatu yang berbeda dengan pendidikan lainnya. Pendidikan Islam didasari pada sifat Rabbani (Ketuhan-an).
Kesempurnaan pendidikan Islam yang diajarkan dalam Alquran ternyata tidak mampu mengetuk hati manusia untuk mengembangkan pendidikan sesuai dengan ajaran Alquran. Pendidikan Islam menjadi pilihan yang ke sekian untuk masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan. Masyarakat pada umumnya lebih percaya kepada pendidikan umum yang sebenarnya itu sudah diprogramkan oleh bangsa Yahudi untuk melemahkan pendidikan Islam.
Hal ini menjadi tugas bagi kita ebagai umat Islam untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan berorientasi Alquran.
Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Alquran ebagai pedoman hidup bagi manusia, sebagai peta untuk menuju ke arah kebaikan. Ingin sukses dunia akhirat, baca Alquran, pelajari, dan amalkan. Wallahu ‘Alam
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. Natsir. 1997. Dasar-Dasar Ilmu Mendidik. Jakarta : Mutiara.
Alquran Al Karim. Syamil Cipta Media : Bandung.
Hadian, Novi dan Tim ILNA. 2003. Super Mentoring Senior. Bandung : Syamil Cipta Media.
http://re-searchengines.com/didik17091.html
Nata, Abudin. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung : Angkasa.
Noer, Hery Aly dan Munzier. 2008. Watak Pendidikan Islam. Jakarta : Friska Agung Insani.
Taufiq, Rachmat Hidayat. 1999. Khazanah Istilah Alquran. Bandung : Mizan.
www.fathurin-zen.com/?p=19
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Individu manusia lahir dalam keadaan tanpa memiliki pengetahuan apapun, tetapi ia telah dilengkapi dengan fitrah yang memungkinkannya untuk menguasai berbagai pengetahuan dan peradaban. Dengan memfungsikan fitrah itulah manusia belajar dari lingkungan dan masyarakat orang dewasa yang mendirikan institusi pendidikan. Kondisi awal individu dan proses pendidikannya tersebut disyaratkan oleh Allah di dalam firman-Nya :
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu besyukur. (Q.S. Anhl, 16 : 78).
Tidak ada agama selain Islam dan tidak ada kitab suci selain Alquran yang demikian tinggi menghargai pendidikan dan ilmu pengetahuan. Islam sangat menghargai orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Dalam Alquran sudah jelas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu (Q.S. Al Mujadalah : 11).
Pendidikan merupakan persoalan penting bagi semua umat. Pendidikan selalu menjadi tumpuan harapan untuk mengembangkan dan memajukan peradaban manusia. Islam memberikan petunjuk supaya kita menjadi orang yang berilmu. Semuanya ada dalam Alquran.
Alquran sebagai sumber pokok ajaran Islam dan sebagai pedoman hidup umat Islam memiliki kandungan yang sangat banyak mengenai ilmu pengetahuan. Perhatian Islam ssterhadap pendidikan terbukti dengan diturunkannya wahyu pertama kepada Rasulullah, ketika beliau berada di Gua Hira yaitu Q.S Al ‘Alaq ayat 1-5.
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al ‘Alaq : 1-5).
Dalam wahyu pertama di atas Allah SWT memulai surat dengan memerintahkan untuk membaca yang timbul dari sifat ‘tahu’. Lalu menyebutkan penciptaan manusia secara khusus dan umum, menyebut nikmat-Nya dengan mengajarkan manusia apa yang ia tidak ketahui. Hal itu menunjukkan akan kemuliaan belajar dan ilmu pengetahuan.
Namun pada zaman globalisasi ini pendidikan kerap kali disalahgunakan. Orang yang berilmu tidak disertai dengan keimanan akan mengakibatkan buruk bagi perkembangan dan kemajuan peradaban masyarakat. Banyaknya orang yang pandai namun dimanfaatkan untuk menipu masyarakat menjadi kendala kemajuan pendidikan. Selain itu, pendidikan yang dipelopori oleh bangsa Yahudi menjadi kendala yang perlu perhatian khusus untuk menanganinya.
Pendidikan Islam menjadi pilihan yang ke sekian untuk masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan. Masyarakat pada umumnya lebih percaya kepada pendidikan umum yang sebenarnya itu sudah diprogramkan oleh bangsa Yahudi untuk melemahkan pendidikan Islam.
Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Alquran ebagai pedoman hidup bagi manusia, sebagai peta untuk menuju ke arah kebaikan. Ingin sukses dunia akhirat, baca Alquran, pelajari, dan amalkan.
BAB II
PEMBAHASAN
PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN
A. Pengertian Pendidikan
Pendidikan dpat diartikan secara sempit dan dapat pula diartikan secara luas. Secara sempit dapat diartikan, “ bimbingan yang diberikan kepada anak-anak sampai ia dewasa.” Sedangkan pendidikan dalam arti luas adalah
Segala sesuatu yang menyangkut proses perkembangan dan pengembangan manusia, yaitu upaya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai bagi anak didik, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan itu menjadi bagian dari kepribadian anak yang pada gilirannya menjadi orang pandai, baki, mampu hidup dan berguna bagi masyarakat. (Ali, M Natsir. 1997 : 23).
Syed Naquib al Attas (1984 : 60) dalam hal ini menyatakan, bahwa pendidikan berasal dari kata ta’dib. Memang terdapt kata lain yang berkaitan dengan pendidikan selain ta’dib, yakni tarbiyah. Akan tetapi tarbiyah lebih menekankan pada mengasuh, menanggung, memberi makan, memelihara, dan menjadikan bertambah dalam pertumbuhan.
Selain itu Naqib (1997 : 59) menyatakan bahwa penekanan pada ‘adab yang mencakup dalam amal pendidikan dan proses pendidikan adalah untuk menjamin bahwa ilmu dipergunakan secara baik dalam masyarakat. Karena alasan inilah maka orang-orang bijak terdahulu mengkombinasikan ilmu dengan amal dan adab dan menganggap kombinasi harmonis ketiganya sebagai pendidikan.
Pendidikan memang bukan sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, pembinaan mental, jasmani, dan intelek semata. Akan tetapi bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang telah didapatkan dipraktekan dalam perilaku sehari-hari.
Dengan mengutip rumusan hasil seminar Pendidikan Islam se-Indonesia di Cipayung Bogor tanggal 7-11 Mei 1960, H.M. Arifin menyatakan bahwa pendidikan (Islam) adalah :
Sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.
Istilah membimbing, mengarahkan, dn mengasuh serta mengajarkan dan melatih mengandung pengertian usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui proses setingkat menuju tujuan yang ditetapkan, yaitu menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran, sehingga terbentuklah manusia yang berpribadi dan berbudi luhur sesuai ajaran Islam.
Dari pengertian pendidikan yang dinayatakan oleh H.M. Arifin setidaknya ada tiga poin yang dapat disimpulkan. Pertama, pendidikan Islam menyangkut aspek jasmani dan riohani. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu pembinaan terhadap keduanya harus seimbang.
Kedua, pendidikan Islam mendasarkan konsepsinya pada nilai-nilai religius. Ini berarti bahwa pendidikan Islam tidak mengabaikan faktor teologis sebagai sumber ari ilmu itu sendiri. Sebagaimana Firman Allah
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya kemudian mengemukakannya kepada malaikat, lalu berfirman : Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Al Baqoroh : 31).
Ayat di atas menunjukkan adanya epistimologi dalam Islam, yakni bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari yang satu, Allah SWT. Dia-lah pendidik yang pertama dan utama. Tidak ada pendidikan yang terjadi di dunia ini tanpa Allah SWT.
Ketiga, adanya unsur takwa sebagai tujuan yang harus dicapai. Sebagaimana kita ketahui, bahwa takwa merupakan benteng yang dapat berfungsi sebagai daya tangkal terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang datang dari luar.
B. Tujuan Pendidikan dalam Islam
Pendidikan Islam berhubungan erat dengan agama Islam itu sendiri, lengkap dengan akidah, syariat, dan sistem kehidupannya. Pendidikan Islam dibangun atas keimanan dan ketaqwaan, ilmu dan pengetahuan, amal shaleh, dan akhlak. Pendidikan Islam bersifat Rabbani (Ketuhan-an), sebab mengacu pada Allah. Sifat tersebut membuat pendidikan Islam mejadi berbeda dengan pendidikan lainnya.
Tujuan agama Islam adalah memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi manusia dengan memerintahkan untuk tunduk, bertaqwa, dan beribadah dengan baik kepada Allah. Tujuan ini terlihat dalam firman Allah:
Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang berttaqwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). (QS. Qaf: 31)
Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah-Ku (QS. Adz Dzariyat : 56)
1. Tujuan Umum
Tujuan Umum pendidikan Islam berkesinamungan dengan tujuan agma Islam, yaitu mendidik manusia agar tunduk, bertaqwa, dan beribadah dengan baik hanya kepada Allah. Tujuan pendidikan Islam yang utama adalah untuk meng-Esakan Allah SWT.
Manusia akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat bila memegang teguh pada ajaran Islam. Allah mengutus para Rasul membawa risalah untuk menyelamatkan hidup manusia, menjadi pendidik dan guru bagi manusia. Jejak para rasul kemudian diteruskan oleh para sahabat, para ulama yang oleh Rasulullah dikatakan sebagai pewaris para Nabi.
2. Tujuan Khusus
a. Mendidik individu manusia yang saleh dengan memperhatikan segenap dimensi perkembangannya : rohaniah, emosional, sosial, intelektual, dan fisik.
b. Mendidik anggota kelompok sosial yang shelah, baik dalam keluarga maupun masyarakat muslim.
c. Mendidik manusia yang saleh bagi masyarakat insani yang besar.
C. Pendidikan Dalam Perspektif Alquran
Islam memandang pendidikan sebagai proses yang terkait dengan upaya mempersiapkan manusia untuk mampu memikul tugas sebagai khalifah di bumi. Untuk melaksnakan tugasnya, Allah membekali manusia dengan potensi berupa akal dan kemampuan untuk belajar.
Ingatlah ketika Tuanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “ mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “ sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya kemudian mengemukakannya kepada malaikat, lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu orang-orang yang benar!” mereka menjawab, “Mahasuci Engkau tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”. (QS. Al Baqoroh : 30-32).
Alquran sebagai wahyu dan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW selalu menjadi pusat sorotan karena daya pikatnya yang luar biasa. Keindahan dan keistimewaan Alquran itu terletak pada aspek-aspeknya, antara lain bahasa dan gaya bahasanya, substansi, kesempurnaannya, keterjaminannya darii pencampuran dengan bahasa manusia, jangkauannya yang tiada terbatas, dan multifungsinya bagi umat manusia. Jika manusia berpegang teguh kepadanya, hidup manusia tidak akan tersesat. Itu adalah janji Allah.
Berbagai penelitian dan pembahasan, baik yang dilakukan oleh pakar Islam sendiri maupun oleh orientalis menyimpulkan bahwa Alquran memiliki muatan yang universal bagi kehidupan manusia secara keseluruhan, salah satu diantaranya bagaimana konsep Alquran berbicara masalah pendidikan.
Paradigma pendidikan dalam Alquran tidak lepas dari tujuan Allah SWT menciptakan manusia itu sendiri, yaitu pendidikan penyerahan diri secara ikhlas kepada sang Kholik yang mengarah pada tercapainya kebahagiaan hidup dunia maupun akhirat, sebagaimna Firman-Nya dalam QS. Adz-Dzariyat: 56 :
Tidak semata-mata kami ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah (QS. Adz Dzariyat : 56)
Menurut Armai Arief (2007:175) " bahwa tujuan pendidikan dalam Alquran adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok, sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah SWT. dan kholifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang diciptakan Allah".
Pendidikan dalam perspektif Alquran dapat dilihat bagaimana Luqman Al-Hakim memberikan pendidikan yang mendasar kepada putranya, sekaligus memberikan contohnya, juga menunjukkan perbuatannya lewat pengamalan dan sikap mental yang dilakukannya sehari-hari dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Diantara wasiat pendidikan 'monumental' yang dicontohkan Luqman lewat materi billisan dan dilakukannya lewat bilamal terlebih dahulu adalah: Jangan sekali-kali menyekutukan Allah, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, jangan mengikuti seruan syirik, ingatlah bahwa manusia itu pasti mati, hendaklah kita tetap merasa diawasi oleh Allah, hendaklah selalu mendirikan sholat, kerjakan selalu yang baik dan tinggalkan perbuatan keji, jangan suka menyombongkan diri, sederhanalah dalam berpergian, dan rendahkanlah suaramu.
Walaupun sederhana materi dan metode yang diajarkan Luqman Al-Hakim kepada putranya termasuk kepada kita semua yang hidup di jaman modern ini, namun betapa cermat dan mendalam filosofi pendidikan serta hikmah yang dimiliki Luqman untuk dapat dipelajari oleh generasi berikutnya sampai akhir jaman.
Konsep pendidikan dalam perspektif Alquran yang direfleksikan Allah SWT dalam QS. Lukman: 12-19.
Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Luqmman, yaitu : " bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepada anaknya: "Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu adalah benar-benar kedzaliman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia terhadap dua orang ibu-bapak; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuannya tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberikan kepadamu apa yang telah engkau kerjakan.
(Luqman berkata): "Hai anakkua, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui". Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah engkau memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanalah engkau dalam berjalan dan lunakkan suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.
Ketokohan Luqman Al-Hakim seperti dijelaskan di atas merupakan suatu keniscayaan dalam dunia pendidikan, hingga dapat melahirkan para ahli pendidikan dibidangnya masing-masing sejak Alquran dilauncingkan oleh pembawa risalah terakhir Rosululloh Muhammad SAW empat belas abad yang lalu hingga sekarang bahkan sampai akhir jaman. Islam memandang dan memposisikan sendi-sendi keilmuan atau ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sesuatu yang sangat utama dan urgen. Ia merangkul iptek sedemikian rupa sehingga menganggap suci dan disamakan derajatnya dengan jihad bagi perjuangan orang-orang yang berilmu dan yang mencari ilmu, juga karya-karya yang mereka temukan tentang fenomena dan rahasia alam semesta ini. Hal ini dijelaskan dengan firman Allah
Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.(QS. Al Mujadilah : 11)
Ilmu pengetahuan yang dituju oleh Alquran menurut Widodo (2007: 161) adalah ilmu pengetahuan dengan pengertiannya yang menyeluruh, yang mengatur segala yang berhubungan dengan kehidupan dan tidak terbatas pada ilmu syariah dan akidah saja. Ia mencakup berbagai disiplin ilmu seperti ilmu sosial, ekonomi, sejarah, fisika, biologi, matematika, astronomi, dan geografi dalam bentuk gejala-gejala umum, general ideas, atau grand theory yang perlu dikem,bangkan lagi oleh akal manusia. Dalam pandangan yang bersifat internal-global, ilmu-ilmu dalam Alquran dapat dijabarkan ke dalam masalah-masalah akidah, syariah, ibadah, muamalah, akhlak, kisah-kisah lampau,berita-berita akan dating, dan ilmu pengetahuan ilahiah lainnya.
Demikian lengkapnya berbagai ilmu yang terdapat dalam Alquran, tidak terkecuali masalah sains dan matematika. Tentang term ini Fahmi Basya (1427H: 95) menjelaskan bahwa Matematika Islam ialah matematika yang menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagi postulat. Hal itu sejalan dengan apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW bahwa:
" Aku tinggalkan untuk kalian dua urusan, kamu tidakakan tersesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah (Alquran) dan Sunnah Rasul Allah (Hadits)."
Sebab itu masih menurut dia, dalam Matematika Islam, kita tidak lagi perlu membuktikan suatu data yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, sekalipun nanti dalam perjalananya, Matematika Islam seolah membuktikan kebenaran sunnah-sunnah Nabi. Data bilangan dari Alquran dan Nabi, diolah dan dibuat model matematikanya. Untuk memperjelas penemuannya dia mengutip QS. Al-Hasyr ayat 21 sebagai berikut :
Kalau Kami turunkan Alquran ini kepada gunung, sungguh kamu lihat dia tunduk terpecah belah dari takut kepada Allah. Dan Dan itu perumpamaan yang Kami adakan untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS. Al hasyr : 21)
Cuplikan ayat di atas menjelaskan bahwa Alquran adalah suatu Formula. Oleh karena itu diakhir ayat tadi dikatakan 'itu perumpamaan yang kami adakan untuk manusia supaya mereka berfikir. Fenomena ini menandakan bahwa Alquran berisi Sains yang perlu difikirkan.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Tidak ada agama selain Islam dan tidak ada kitab suci selain Alquran yang demikian tinggi menghargai pendidikan dan ilmu pengetahuan. Islam sangat menghargai orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Dalam Alquran sudah jelas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu (Q.S. Al Mujadalah : 11).
Alquran sebagai sumber pokok ajaran Islam dan sebagai pedoman hidup umat Islam memiliki kandungan yang sangat banyak mengenai ilmu pengetahuan. Perhatian Islam terhadap pendidikan terbukti dengan diturunkannya wahyu pertama kepada Rasulullah, ketika beliau berada di Gua Hira yaitu Q.S Al ‘Alaq ayat 1-5.
Pendidikan dalam perspektif Alquran dapat dilihat bagaimana Luqman Al-Hakim memberikan pendidikan yang mendasar kepada putranya, sekaligus memberikan contohnya, juga menunjukkan perbuatannya lewat pengamalan dan sikap mental yang dilakukannya sehari-hari dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Diantara wasiat pendidikan 'monumental' yang dicontohkan Luqman lewat materi billisan dan dilakukannya lewat bilamal terlebih dahulu adalah: Jangan sekali-kali menyekutukan Allah, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, jangan mengikuti seruan syirik, ingatlah bahwa manusia itu pasti mati, hendaklah kita tetap merasa diawasi oleh Allah, hendaklah selalu mendirikan sholat, kerjakan selalu yang baik dan tinggalkan perbuatan keji, jangan suka menyombongkan diri, sederhanalah dalam berpergian, dan rendahkanlah suaramu.
B. SARAN
Perhatian Islam terhadap pendidikan sangatlah besar. Dalam Alquran banyak ayat-ayat yang menerangkan masalah pendidikan. Pendidikan Islam memiliki sesuatu yang berbeda dengan pendidikan lainnya. Pendidikan Islam didasari pada sifat Rabbani (Ketuhan-an).
Kesempurnaan pendidikan Islam yang diajarkan dalam Alquran ternyata tidak mampu mengetuk hati manusia untuk mengembangkan pendidikan sesuai dengan ajaran Alquran. Pendidikan Islam menjadi pilihan yang ke sekian untuk masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan. Masyarakat pada umumnya lebih percaya kepada pendidikan umum yang sebenarnya itu sudah diprogramkan oleh bangsa Yahudi untuk melemahkan pendidikan Islam.
Hal ini menjadi tugas bagi kita ebagai umat Islam untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan berorientasi Alquran.
Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Alquran ebagai pedoman hidup bagi manusia, sebagai peta untuk menuju ke arah kebaikan. Ingin sukses dunia akhirat, baca Alquran, pelajari, dan amalkan. Wallahu ‘Alam
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. Natsir. 1997. Dasar-Dasar Ilmu Mendidik. Jakarta : Mutiara.
Alquran Al Karim. Syamil Cipta Media : Bandung.
Hadian, Novi dan Tim ILNA. 2003. Super Mentoring Senior. Bandung : Syamil Cipta Media.
http://re-searchengines.com/didik17091.html
Nata, Abudin. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung : Angkasa.
Noer, Hery Aly dan Munzier. 2008. Watak Pendidikan Islam. Jakarta : Friska Agung Insani.
Taufiq, Rachmat Hidayat. 1999. Khazanah Istilah Alquran. Bandung : Mizan.
www.fathurin-zen.com/?p=19
Langganan:
Postingan (Atom)