Kamis, 17 Desember 2009
Inilah Kalamullah
Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan agama Islam mencakup semua aspek. Islam tidak hanya mengatur masalah akhirat, tetapi masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan dunia sudah tertera dalam Islam. Dari masalah yang berkaitan dengan akhlak, perdagangan, harta warisan, hubungan sosial, perkawinan, pendidikan, dan lain sebagainya.
Islam mengajarkan agar kita senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunah. Keduanya merupakan sumber hukum Islam yang utama. Jika kita berpegang teguh pada keduanya, maka kita tidak akan tersesat, begitulah isi dari sabda Nabi Muhammad SAW.
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk bagi manusia. Al-Qur’an merupakan peta menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Keindahan yang terkandung didalamnya mampu membuat hati Umar bin Khattab tersentuh hingga ia akhirnya memeluk Islam. Al-Qur’an juga sebagai obat bagi hati-hati yang gelisah. Dengan membaca Al-Qur’an kita akan bisa merasakan kehadiran Alloh dalam hati kita, sehingga hati kita tidak pernah merasa sendiri.
Begitu besar pengaruh Al-Qur’an dalam diri umat Islam, sehingga banyak umat Muslim yang mendirikan lembaga khusus untuk mempelajari Al-Qur’an. Didirikannya pesantren-pesantren Al-Qur’an, kajian rutin Al-Qur’an merupakan perhatian umat Islam dalam membumikan Al-Qur’an.
Selasa, 08 Desember 2009
Pacaran Dini Mudah Sakit-sakitan
Hidayatullah.com--Jangan dulu pacaran kalau masih kecil. Begitu nasihat yang sering disampaikan orangtua pada anaknya yang masih remaja. Ternyata nasihat orangtua itu didukung oleh peneliti, semakin dini seseorang menjalin cinta semakin besar risiko sakit hati, depresi bahkan sakit-sakitan.
Dalam Journal of Pain, peneliti dari Universite de Montreal, University Hospital Center dan McGill University menemukan anak remaja yang mulai pacaran sejak usia dini lebih banyak mengalami sakit kepala, perut dan pinggang. Mereka juga dilaporkan lebih banyak depresi dibanding rekan seusianya yang belum pernah pacaran.
Dr Isabelle Tremblay, seorang peneliti dari Universite de Montreal serta Dr Michael Sullivan, seorang profesor psikolog dari McGill University telah melakukan studi untuk mengetahui pengaruh menjalin hubungan sejak dini terhadap kesehatan seseorang.
Sebanyak 382 pelajar remaja berumur rata-rata 12 hingga 17 tahun di Kanada direkrut sebagai partisipan penelitian. Mereka diminta untuk mengisi kuesioner tentang frekuensi dan intensitas mengalami gangguan emosi serta fisik dan juga usia awal mengenal cinta.
Hasilnya yaitu, seseorang yang mengenal cinta lebih dini cenderung menjadi pribadi yang rapuh, sakit-sakitan, merasa tidak aman dan mudah depresi. "Gejala itu berkembang dari sejak masih kanak-kanak, lalu remaja dan akhirnya ketika dewasa," ujar Sullivan seperti dilansir Sciencedaily, Kamis (26/11/2009).
Peneliti belum sepenuhnya mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Namun, kesimpulan yang dinyatakan peneliti adalah, seseorang yang menjalin hubungan sejak dini, contohnya remaja, akan memiliki alarm rasa sakit yang lebih tinggi, terutama jika remaja itu menjalin hubungan yang buruk dengan pasangannya.
"Mereka punya kecenderungan tingkat rasa sakit yang lebih mendalam. Mereka benar-benar meresapi perasaan buruk seperti sedih atau kesal karena secara psikologi mereka sudah mengenalnya ketika berhubungan dengan pasangannya,"jelas Sullivan.
Tapi akibat terlalu mendalami perasaan sedih dan emosional itu adalah depresi dan penyakit lainnya. "Karena terlalu sedih atau marah, perasan depresi pun bisa muncul. Akibatnya mereka jadi tidak mau makan, kurang tidur atau tidak mau melakukan apa-apa. Dari situlah muncul penyakit-penyakit seperti pusing, sakit perut dan lainnya," jelas Sullivan.
Mereka yang mengenal cinta dan mengalami masalah dalam berhubungan dengan pasangan lebih dulu memiliki pandangan yang lebih serius dan sikap yang lebih tertutup. Hal itu memicu perasaan stres dan penyakit fisik lainnya.
Sementara itu, mereka yang belum menjalin cinta pada usia dini cenderung lebih ekspresif dan lebih banyak bersosialisasi dengan yang teman-teman lainnya sebagai bentuk mencari dukungan pada saat mereka sedih atau tidak ada masalah. [dtc/www.hidayatullah.com]
Kamis, 26 November 2009
Sykurku
Rabu, 25 November 2009
La tahzan, Innaloha ma'ana!
La Tahzan, Innalloha Ma’ana!
“Ketika kau mohon kepada Allah kekuatan,
Allah memberimu kesulitan agar kau menjadi kuat
Ketika kau mohon kepada Allah kebijaksanaan,
Allah memberimu masalah untuk dipecahkan
Ketika kau mohon kepada Allah kesejahteraan,
Allah memberimu akal untuk berfikir
Ketika kau mohon kepada Allah keberanian,
Allah memberimu kondisi bahaya untuk kau atasi
Ketika kau mohon kepada Allah sebuah CINTA,
Allah memberimu orang-orang bermasalah untuk kau tolong
Ketika kau mohon kepada Allah bantuan, Allah memberimu kesempatan.
Terkadang Allah tidak memberikan apa yang kita pinta,
tapi Allah memebrikan apa yang kita butuhkan.”
La Tahzan, ukhti! Semuanya pasti ada jalan keluarnya. Alloh akan memberikan pertolongan bagi hamba-Nya yang bertaqwa, “Fashbir, Inna wa’dallohi haqq”
Apa yang kita inginkan belum tentu itu yang Allah kehendaki. Kita tidak pernah tahu hal itu baik ataukah buruk untuk kita. Hanya Alla-lah yang Mahatahu, Maha Berkehendak.
Harapan itu masih ada. Jangan kita berputus asa, Allah membenci hal yang demikian. Ini bukan akhir dari segalanya. Kenapa kita mesti marah dan kecewa dengan taqdir ini,Semuanya milik Allah.
Mari kita luruskan niat kita, Lillah! Lillah! Lillah.
Kebahagian terbesar adalah ketika kita bisa menerima semua taqdir yang Allah gariskan dengan hati yang ikhlas. Jangan bersedih, semua terjadi sesuai dengan qadha dan qadar Allah!
Wallahu ‘alam…
Selasa, 24 November 2009
Faidza 'Azamta Fatawakkal 'alalloh 2
Astaghfirulloh, Rabb maafkan aku yang mengeluh. Maafkan aku yang merasa cape. Padahal semua ini adalah rahmat dari-Mu, semua ini adalah tugasku. Tapi, ya Alloh beban ini terasa menyesahkan dada. Mungkinkah karena niatku yang tak sempurna karena-Mu?
Ku marah pada diriku sendiri yang tak bisa menahan amarah, yang tak bisa menjaga hati.
Do’aku ya Rabb…
“Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu, berhimpun dalam naungan cinta-Mu. Kuatkanlah hatiku agar selalu ada dalam jalan-Mu. Jangan biarkan hati ini merasakan kesedihan, ketakutan. Ingatkanku dikala ku khilaf. Masukkanlah kami dalam jannah-Mu yang selalu ku rindukan.”
Ku tahu Engkau akan tidak akan memberikan cobaan yang hamba-Mu tidak mampu memikulnya. Teringatku akan sebuah lirik nasyid Shafik
Allah tak akan memberikan cobaan, yang kau tak mampu untuk memikulnya
Allah taka akan merubah keadaanmu
Jika kau tak berusaha merubahnya
Tegarkan dirimu karena janji Allah adalah pasti…
Cara-Mu dalam mencintai hamba-Mu berbeda-beda. Ku yakin Engkau begitu mencintaiku, mencintai hamba-Mu.
Tetapkan imanku agar ku semakin mencintai-Mu.
Faidza 'Azamta Fatawakkal 'alalloh
Engkau Mahatahu yang terbaik buat hamba-Mu Rabb. Engkau senantiasa memberikan apa yang hamba-Mu butuhkan. Saat ini ku merasakan Engkau begitu dekat, saat ku tersenyum, saat ku melangkah, saat ku melihat keagungan-Mu.
Suatu taqdir telah mengantarkanku dalam amanah ini. Amanah untuk meninggikan dien-Mu yang agung. Rabb, rahmatilah aku, beriku kekuatan untuk tetap menjaga dan melaksanakan amanah ini dengan baik, mengharap ridho-Mu.
Sabtu, 21 November 2009
Menganalisis Makalah
Dengan menyebut nama Allah, Dzat Yang Mahabenar, Maha Memberi petunjuk bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Shalawat dan salam tercurah selalu kepada nabi Muhammad SAW, keluarganya, para sahabat, serta umatnya sampai akhir zaman yang senantiasa istiqomah di jalan Allah SWT.
Setelah saya membaca makalah Bpk. Mulyawan S. Nugraha yang berjudul “Gerakan Pemurnian Wahabi : Muhammad Bin Abdul Wahhab.” Saya akan mencoba menganalisis kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam makalah itu, baik dari segi tulisan, isi, dan penuturan.
1. Dari segi tulisan
Dalam makalah ini terdapat kesalahan tulisan yang beragam. Banyak terdapat penulisan kata yang tidak benar dalam makalah ini. Contohnya dalam kata pemikran, yang seharusnya pemikiran. Selain itu, makalah ini banyak menggunakan bahasa asing. Hal itu tidak sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan.
2. Dari segi penuturan
Ada kata yang dirasa sangat rancu dan tidak efektif, seperti dalam kata kelompok-kelompok khowarij. Pada kata sebelumnya ditulis aliran Syi’ah, aliran Mu’tazilah, kemudian diikuti dengan kata kelompok-kelompok khawarij.
Terdapat kesalahan dalam pengulangan kata yang tidak memakai kata penghubung.
Akhirnya, semoga Allah memberikan kemanfaatan dari apa yang ditulis. Wa allahu a’lam
Sabtu, 24 Oktober 2009
My First Liqo
Ku temukan diriku hari itu. Hari dimana aku mengenal tarbiyah . Sebuah pendidikan Islam yang bukan sembarang pendidikan, tapi pendidikan Islam yang istimewa. Dalam tarbiyah itu aku dibina untuk menjadi seorang muslimah yang kaffah, merasakan indahnya Islam, dan yang paling indah, mengenal ukhuwah.
Hari pertama aku liqo – sebuah tarbiyah – ku kuatkan azzamku. Dalam hati aku berdo’a, “Rabb, aku memohon petunjuk dan bimbingan-Mu agar aku istiqomah di jalan-Mu, ridhoiku dengan jalan yang sedang kutempuh,” Dengan mengucap bismillah aku melangkah ke tempat pertama dimana aku liqo.
Sesampainya di tempat itu, sudah ada seseorang yang menungguku, menyambutku dengan senyuman yang tulus dan ikhlas. Wajahnya memancarkan ketaqwaan, menghiasi keindahan akhlaknya, dialah murobiahku. Ku ucap salam kepadanya, dengan segera ia menjawab salamku sambil merangkulku, hatiku kembali berkata, “Rabb, kuatkan ikatan ini, kumpulkan kami dalam syurga firdaus-Mu, ridhoiku dengan ukhuwah ini.”
Tahap demi tahap aku mengikuti liqo. Dimulai dengan pembacaan basmallah, dibuka dengan tilawah, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan antara murobiah dengan mutarobi. Setelah itu murobiahku mulai memberikan taujih.. Penjelasan mengenai makna Syahadatain adalah materi pertama yang aku terima dalam liqo. Subhanallah, taujihnya sederhana tapi begitu mendalam dan mudah dicerna oleh hati dan pikiran. Aku larut dalam penjelasan yang disampaikan oleh murobiahku.
Tak terasa waktu sudah sore, murobiahku mengakhiri taujihnya dengan membaca hamdalah. Akhirnya liqo pun selesai, ditutup dengan pembacaan hamdalah, istighfar, dan do’a kafaratul masjid. Kami pun harus berpisah sore itu.
Sebuah perubahan telah menantiku ketika aku mengenal halaqoh, berubah untuk menjadi lebih baiik, “Bisakah aku istiqomah dan tsiqoh dengan semua ini, aku ingin berubah ya Rabb,” Kita tidak akan berubah jika kita terus menanti perubahan itu datang dengan sendirinya, sedang kita berdiam diri tanpa melakukan sesuatu yang membuat kita berubah, berubah menjadi lebih baik tentunya.
Aku berlindung kepada-Mu dari setiap rasa takut yang mendera. Hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakal, hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Cukuplah Engkau sebagai pelindung dan penolong. Wallahu a’lam
Minggu, 18 Oktober 2009
Hai Tersenyumlah
MediaMuslim.Info – Tertawa sewajarnya merupakan obat kecemasan dan pelipur kesedihan. Dalam senyum terdapat kekuatan yang menakjubkan dalam menggembirakan jiwa dan menyenangkan hati, sehingga Abu darda berkata: “Sesungguhnya aku akan tertawa hingga hatiku akan terhibur.” Tertawa merupakan puncak keceriaan, kelegaan dan keriangan, asalkan tidak berlebihan, dengan sewajarnya, dan tidak di maksudkan mengejek atau mencemooh: “Jangan terlalu banyak tertawa, karena terlalu banyak tertawa akan mematikan hati.”Hakikatnya, Islam adalah agama yang dibangun atas dasar keseimbangan dan keadilan, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak, maupun tingkah laku. Oleh karena itu, janganlah anda masamkan raut muka anda sehingga menakutkan orang yang melihat. Jangan pula anda tertawa terbahak – bahak. Akan tetapi, tampilkanlah wajah yang tenang, selalu berseri dan enak dipandang, sehingga menyenangkan orang yang memandang.
Kalau kita diminta memilih antara harta yang banyak atau jabatan terhormat dan jiwa yang tenang penuh keceriaan, tentu anda akan memilih yang kedua. Apa artinya harta jika jiwa penuh kemuraman? Apa artinya pangkat dan jabatan jika jiwa terkekang? Apa artinya kecantikan istri bila ia selalu cemberut dan menjadikan suasana rumah seperti neraka? Sungguh lebih baik seribu kali lipat istri yang tidak terlalu cantik tetapi mampu menciptakan suasana rumah seperti surga.
Senyum yang tampak secara lahir tidak akan bernilai bila muncul dengan pura – pura dan untuk menutupi seseorang yang berperangai menyimpang. Lihatlah bunga juga tersenyum; hutan tersenyum; dan lautan, sungai, langit, bintang, burung, semuanya tersenyum. Senyum mereka itulah senyum yang tulus.
Jiwa yang senantiasa tersenyum akan melihat kesulitan dengan nyaman sambil berusaha mengatasinya. Jika mereka melihat sebuah persoalan, mereka tersenyum dan tetap tersenyum ketika mampu mengatasinya. Sebaliknya, jiwa yang muram akan akan melihat kesulitan dengan kesedihan. Bila menemui kesulitan, ia akan meghindar atau membesar-besarkannya, semangatnya melemah dan berandai andai dengan kata-kata “kalau”, “bila”, dan “jika”.
Betapa kita amat membutuhkan senyuman, keceriaan wajah, kelapangan dada, kemrahan hati, kelemahlembutan, dan keramahan. “Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mewahyukan kepadaku (Rasululloh Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam) agar kalian bersikap tawadhu’ hingga tidak ada seorang pun yang berbuat zhalim terhadap orang lain.”
