BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Individu manusia lahir dalam keadaan tanpa memiliki pengetahuan apapun, tetapi ia telah dilengkapi dengan fitrah yang memungkinkannya untuk menguasai berbagai pengetahuan dan peradaban. Dengan memfungsikan fitrah itulah manusia belajar dari lingkungan dan masyarakat orang dewasa yang mendirikan institusi pendidikan. Kondisi awal individu dan proses pendidikannya tersebut disyaratkan oleh Allah di dalam firman-Nya :
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu besyukur. (Q.S. Anhl, 16 : 78).
Tidak ada agama selain Islam dan tidak ada kitab suci selain Alquran yang demikian tinggi menghargai pendidikan dan ilmu pengetahuan. Islam sangat menghargai orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Dalam Alquran sudah jelas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu (Q.S. Al Mujadalah : 11).
Pendidikan merupakan persoalan penting bagi semua umat. Pendidikan selalu menjadi tumpuan harapan untuk mengembangkan dan memajukan peradaban manusia. Islam memberikan petunjuk supaya kita menjadi orang yang berilmu. Semuanya ada dalam Alquran.
Alquran sebagai sumber pokok ajaran Islam dan sebagai pedoman hidup umat Islam memiliki kandungan yang sangat banyak mengenai ilmu pengetahuan. Perhatian Islam ssterhadap pendidikan terbukti dengan diturunkannya wahyu pertama kepada Rasulullah, ketika beliau berada di Gua Hira yaitu Q.S Al ‘Alaq ayat 1-5.
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al ‘Alaq : 1-5).
Dalam wahyu pertama di atas Allah SWT memulai surat dengan memerintahkan untuk membaca yang timbul dari sifat ‘tahu’. Lalu menyebutkan penciptaan manusia secara khusus dan umum, menyebut nikmat-Nya dengan mengajarkan manusia apa yang ia tidak ketahui. Hal itu menunjukkan akan kemuliaan belajar dan ilmu pengetahuan.
Namun pada zaman globalisasi ini pendidikan kerap kali disalahgunakan. Orang yang berilmu tidak disertai dengan keimanan akan mengakibatkan buruk bagi perkembangan dan kemajuan peradaban masyarakat. Banyaknya orang yang pandai namun dimanfaatkan untuk menipu masyarakat menjadi kendala kemajuan pendidikan. Selain itu, pendidikan yang dipelopori oleh bangsa Yahudi menjadi kendala yang perlu perhatian khusus untuk menanganinya.
Pendidikan Islam menjadi pilihan yang ke sekian untuk masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan. Masyarakat pada umumnya lebih percaya kepada pendidikan umum yang sebenarnya itu sudah diprogramkan oleh bangsa Yahudi untuk melemahkan pendidikan Islam.
Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Alquran ebagai pedoman hidup bagi manusia, sebagai peta untuk menuju ke arah kebaikan. Ingin sukses dunia akhirat, baca Alquran, pelajari, dan amalkan.
BAB II
PEMBAHASAN
PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN
A. Pengertian Pendidikan
Pendidikan dpat diartikan secara sempit dan dapat pula diartikan secara luas. Secara sempit dapat diartikan, “ bimbingan yang diberikan kepada anak-anak sampai ia dewasa.” Sedangkan pendidikan dalam arti luas adalah
Segala sesuatu yang menyangkut proses perkembangan dan pengembangan manusia, yaitu upaya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai bagi anak didik, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan itu menjadi bagian dari kepribadian anak yang pada gilirannya menjadi orang pandai, baki, mampu hidup dan berguna bagi masyarakat. (Ali, M Natsir. 1997 : 23).
Syed Naquib al Attas (1984 : 60) dalam hal ini menyatakan, bahwa pendidikan berasal dari kata ta’dib. Memang terdapt kata lain yang berkaitan dengan pendidikan selain ta’dib, yakni tarbiyah. Akan tetapi tarbiyah lebih menekankan pada mengasuh, menanggung, memberi makan, memelihara, dan menjadikan bertambah dalam pertumbuhan.
Selain itu Naqib (1997 : 59) menyatakan bahwa penekanan pada ‘adab yang mencakup dalam amal pendidikan dan proses pendidikan adalah untuk menjamin bahwa ilmu dipergunakan secara baik dalam masyarakat. Karena alasan inilah maka orang-orang bijak terdahulu mengkombinasikan ilmu dengan amal dan adab dan menganggap kombinasi harmonis ketiganya sebagai pendidikan.
Pendidikan memang bukan sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, pembinaan mental, jasmani, dan intelek semata. Akan tetapi bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang telah didapatkan dipraktekan dalam perilaku sehari-hari.
Dengan mengutip rumusan hasil seminar Pendidikan Islam se-Indonesia di Cipayung Bogor tanggal 7-11 Mei 1960, H.M. Arifin menyatakan bahwa pendidikan (Islam) adalah :
Sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.
Istilah membimbing, mengarahkan, dn mengasuh serta mengajarkan dan melatih mengandung pengertian usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui proses setingkat menuju tujuan yang ditetapkan, yaitu menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran, sehingga terbentuklah manusia yang berpribadi dan berbudi luhur sesuai ajaran Islam.
Dari pengertian pendidikan yang dinayatakan oleh H.M. Arifin setidaknya ada tiga poin yang dapat disimpulkan. Pertama, pendidikan Islam menyangkut aspek jasmani dan riohani. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu pembinaan terhadap keduanya harus seimbang.
Kedua, pendidikan Islam mendasarkan konsepsinya pada nilai-nilai religius. Ini berarti bahwa pendidikan Islam tidak mengabaikan faktor teologis sebagai sumber ari ilmu itu sendiri. Sebagaimana Firman Allah
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya kemudian mengemukakannya kepada malaikat, lalu berfirman : Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Al Baqoroh : 31).
Ayat di atas menunjukkan adanya epistimologi dalam Islam, yakni bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari yang satu, Allah SWT. Dia-lah pendidik yang pertama dan utama. Tidak ada pendidikan yang terjadi di dunia ini tanpa Allah SWT.
Ketiga, adanya unsur takwa sebagai tujuan yang harus dicapai. Sebagaimana kita ketahui, bahwa takwa merupakan benteng yang dapat berfungsi sebagai daya tangkal terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang datang dari luar.
B. Tujuan Pendidikan dalam Islam
Pendidikan Islam berhubungan erat dengan agama Islam itu sendiri, lengkap dengan akidah, syariat, dan sistem kehidupannya. Pendidikan Islam dibangun atas keimanan dan ketaqwaan, ilmu dan pengetahuan, amal shaleh, dan akhlak. Pendidikan Islam bersifat Rabbani (Ketuhan-an), sebab mengacu pada Allah. Sifat tersebut membuat pendidikan Islam mejadi berbeda dengan pendidikan lainnya.
Tujuan agama Islam adalah memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi manusia dengan memerintahkan untuk tunduk, bertaqwa, dan beribadah dengan baik kepada Allah. Tujuan ini terlihat dalam firman Allah:
Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang berttaqwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). (QS. Qaf: 31)
Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah-Ku (QS. Adz Dzariyat : 56)
1. Tujuan Umum
Tujuan Umum pendidikan Islam berkesinamungan dengan tujuan agma Islam, yaitu mendidik manusia agar tunduk, bertaqwa, dan beribadah dengan baik hanya kepada Allah. Tujuan pendidikan Islam yang utama adalah untuk meng-Esakan Allah SWT.
Manusia akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat bila memegang teguh pada ajaran Islam. Allah mengutus para Rasul membawa risalah untuk menyelamatkan hidup manusia, menjadi pendidik dan guru bagi manusia. Jejak para rasul kemudian diteruskan oleh para sahabat, para ulama yang oleh Rasulullah dikatakan sebagai pewaris para Nabi.
2. Tujuan Khusus
a. Mendidik individu manusia yang saleh dengan memperhatikan segenap dimensi perkembangannya : rohaniah, emosional, sosial, intelektual, dan fisik.
b. Mendidik anggota kelompok sosial yang shelah, baik dalam keluarga maupun masyarakat muslim.
c. Mendidik manusia yang saleh bagi masyarakat insani yang besar.
C. Pendidikan Dalam Perspektif Alquran
Islam memandang pendidikan sebagai proses yang terkait dengan upaya mempersiapkan manusia untuk mampu memikul tugas sebagai khalifah di bumi. Untuk melaksnakan tugasnya, Allah membekali manusia dengan potensi berupa akal dan kemampuan untuk belajar.
Ingatlah ketika Tuanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “ mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “ sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya kemudian mengemukakannya kepada malaikat, lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu orang-orang yang benar!” mereka menjawab, “Mahasuci Engkau tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”. (QS. Al Baqoroh : 30-32).
Alquran sebagai wahyu dan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW selalu menjadi pusat sorotan karena daya pikatnya yang luar biasa. Keindahan dan keistimewaan Alquran itu terletak pada aspek-aspeknya, antara lain bahasa dan gaya bahasanya, substansi, kesempurnaannya, keterjaminannya darii pencampuran dengan bahasa manusia, jangkauannya yang tiada terbatas, dan multifungsinya bagi umat manusia. Jika manusia berpegang teguh kepadanya, hidup manusia tidak akan tersesat. Itu adalah janji Allah.
Berbagai penelitian dan pembahasan, baik yang dilakukan oleh pakar Islam sendiri maupun oleh orientalis menyimpulkan bahwa Alquran memiliki muatan yang universal bagi kehidupan manusia secara keseluruhan, salah satu diantaranya bagaimana konsep Alquran berbicara masalah pendidikan.
Paradigma pendidikan dalam Alquran tidak lepas dari tujuan Allah SWT menciptakan manusia itu sendiri, yaitu pendidikan penyerahan diri secara ikhlas kepada sang Kholik yang mengarah pada tercapainya kebahagiaan hidup dunia maupun akhirat, sebagaimna Firman-Nya dalam QS. Adz-Dzariyat: 56 :
Tidak semata-mata kami ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah (QS. Adz Dzariyat : 56)
Menurut Armai Arief (2007:175) " bahwa tujuan pendidikan dalam Alquran adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok, sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah SWT. dan kholifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang diciptakan Allah".
Pendidikan dalam perspektif Alquran dapat dilihat bagaimana Luqman Al-Hakim memberikan pendidikan yang mendasar kepada putranya, sekaligus memberikan contohnya, juga menunjukkan perbuatannya lewat pengamalan dan sikap mental yang dilakukannya sehari-hari dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Diantara wasiat pendidikan 'monumental' yang dicontohkan Luqman lewat materi billisan dan dilakukannya lewat bilamal terlebih dahulu adalah: Jangan sekali-kali menyekutukan Allah, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, jangan mengikuti seruan syirik, ingatlah bahwa manusia itu pasti mati, hendaklah kita tetap merasa diawasi oleh Allah, hendaklah selalu mendirikan sholat, kerjakan selalu yang baik dan tinggalkan perbuatan keji, jangan suka menyombongkan diri, sederhanalah dalam berpergian, dan rendahkanlah suaramu.
Walaupun sederhana materi dan metode yang diajarkan Luqman Al-Hakim kepada putranya termasuk kepada kita semua yang hidup di jaman modern ini, namun betapa cermat dan mendalam filosofi pendidikan serta hikmah yang dimiliki Luqman untuk dapat dipelajari oleh generasi berikutnya sampai akhir jaman.
Konsep pendidikan dalam perspektif Alquran yang direfleksikan Allah SWT dalam QS. Lukman: 12-19.
Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Luqmman, yaitu : " bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepada anaknya: "Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu adalah benar-benar kedzaliman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia terhadap dua orang ibu-bapak; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuannya tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberikan kepadamu apa yang telah engkau kerjakan.
(Luqman berkata): "Hai anakkua, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui". Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah engkau memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanalah engkau dalam berjalan dan lunakkan suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.
Ketokohan Luqman Al-Hakim seperti dijelaskan di atas merupakan suatu keniscayaan dalam dunia pendidikan, hingga dapat melahirkan para ahli pendidikan dibidangnya masing-masing sejak Alquran dilauncingkan oleh pembawa risalah terakhir Rosululloh Muhammad SAW empat belas abad yang lalu hingga sekarang bahkan sampai akhir jaman. Islam memandang dan memposisikan sendi-sendi keilmuan atau ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sesuatu yang sangat utama dan urgen. Ia merangkul iptek sedemikian rupa sehingga menganggap suci dan disamakan derajatnya dengan jihad bagi perjuangan orang-orang yang berilmu dan yang mencari ilmu, juga karya-karya yang mereka temukan tentang fenomena dan rahasia alam semesta ini. Hal ini dijelaskan dengan firman Allah
Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.(QS. Al Mujadilah : 11)
Ilmu pengetahuan yang dituju oleh Alquran menurut Widodo (2007: 161) adalah ilmu pengetahuan dengan pengertiannya yang menyeluruh, yang mengatur segala yang berhubungan dengan kehidupan dan tidak terbatas pada ilmu syariah dan akidah saja. Ia mencakup berbagai disiplin ilmu seperti ilmu sosial, ekonomi, sejarah, fisika, biologi, matematika, astronomi, dan geografi dalam bentuk gejala-gejala umum, general ideas, atau grand theory yang perlu dikem,bangkan lagi oleh akal manusia. Dalam pandangan yang bersifat internal-global, ilmu-ilmu dalam Alquran dapat dijabarkan ke dalam masalah-masalah akidah, syariah, ibadah, muamalah, akhlak, kisah-kisah lampau,berita-berita akan dating, dan ilmu pengetahuan ilahiah lainnya.
Demikian lengkapnya berbagai ilmu yang terdapat dalam Alquran, tidak terkecuali masalah sains dan matematika. Tentang term ini Fahmi Basya (1427H: 95) menjelaskan bahwa Matematika Islam ialah matematika yang menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagi postulat. Hal itu sejalan dengan apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW bahwa:
" Aku tinggalkan untuk kalian dua urusan, kamu tidakakan tersesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah (Alquran) dan Sunnah Rasul Allah (Hadits)."
Sebab itu masih menurut dia, dalam Matematika Islam, kita tidak lagi perlu membuktikan suatu data yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, sekalipun nanti dalam perjalananya, Matematika Islam seolah membuktikan kebenaran sunnah-sunnah Nabi. Data bilangan dari Alquran dan Nabi, diolah dan dibuat model matematikanya. Untuk memperjelas penemuannya dia mengutip QS. Al-Hasyr ayat 21 sebagai berikut :
Kalau Kami turunkan Alquran ini kepada gunung, sungguh kamu lihat dia tunduk terpecah belah dari takut kepada Allah. Dan Dan itu perumpamaan yang Kami adakan untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS. Al hasyr : 21)
Cuplikan ayat di atas menjelaskan bahwa Alquran adalah suatu Formula. Oleh karena itu diakhir ayat tadi dikatakan 'itu perumpamaan yang kami adakan untuk manusia supaya mereka berfikir. Fenomena ini menandakan bahwa Alquran berisi Sains yang perlu difikirkan.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Tidak ada agama selain Islam dan tidak ada kitab suci selain Alquran yang demikian tinggi menghargai pendidikan dan ilmu pengetahuan. Islam sangat menghargai orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Dalam Alquran sudah jelas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu (Q.S. Al Mujadalah : 11).
Alquran sebagai sumber pokok ajaran Islam dan sebagai pedoman hidup umat Islam memiliki kandungan yang sangat banyak mengenai ilmu pengetahuan. Perhatian Islam terhadap pendidikan terbukti dengan diturunkannya wahyu pertama kepada Rasulullah, ketika beliau berada di Gua Hira yaitu Q.S Al ‘Alaq ayat 1-5.
Pendidikan dalam perspektif Alquran dapat dilihat bagaimana Luqman Al-Hakim memberikan pendidikan yang mendasar kepada putranya, sekaligus memberikan contohnya, juga menunjukkan perbuatannya lewat pengamalan dan sikap mental yang dilakukannya sehari-hari dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Diantara wasiat pendidikan 'monumental' yang dicontohkan Luqman lewat materi billisan dan dilakukannya lewat bilamal terlebih dahulu adalah: Jangan sekali-kali menyekutukan Allah, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, jangan mengikuti seruan syirik, ingatlah bahwa manusia itu pasti mati, hendaklah kita tetap merasa diawasi oleh Allah, hendaklah selalu mendirikan sholat, kerjakan selalu yang baik dan tinggalkan perbuatan keji, jangan suka menyombongkan diri, sederhanalah dalam berpergian, dan rendahkanlah suaramu.
B. SARAN
Perhatian Islam terhadap pendidikan sangatlah besar. Dalam Alquran banyak ayat-ayat yang menerangkan masalah pendidikan. Pendidikan Islam memiliki sesuatu yang berbeda dengan pendidikan lainnya. Pendidikan Islam didasari pada sifat Rabbani (Ketuhan-an).
Kesempurnaan pendidikan Islam yang diajarkan dalam Alquran ternyata tidak mampu mengetuk hati manusia untuk mengembangkan pendidikan sesuai dengan ajaran Alquran. Pendidikan Islam menjadi pilihan yang ke sekian untuk masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan. Masyarakat pada umumnya lebih percaya kepada pendidikan umum yang sebenarnya itu sudah diprogramkan oleh bangsa Yahudi untuk melemahkan pendidikan Islam.
Hal ini menjadi tugas bagi kita ebagai umat Islam untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan berorientasi Alquran.
Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Alquran ebagai pedoman hidup bagi manusia, sebagai peta untuk menuju ke arah kebaikan. Ingin sukses dunia akhirat, baca Alquran, pelajari, dan amalkan. Wallahu ‘Alam
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. Natsir. 1997. Dasar-Dasar Ilmu Mendidik. Jakarta : Mutiara.
Alquran Al Karim. Syamil Cipta Media : Bandung.
Hadian, Novi dan Tim ILNA. 2003. Super Mentoring Senior. Bandung : Syamil Cipta Media.
http://re-searchengines.com/didik17091.html
Nata, Abudin. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung : Angkasa.
Noer, Hery Aly dan Munzier. 2008. Watak Pendidikan Islam. Jakarta : Friska Agung Insani.
Taufiq, Rachmat Hidayat. 1999. Khazanah Istilah Alquran. Bandung : Mizan.
www.fathurin-zen.com/?p=19