Sabtu, 24 Oktober 2009

My First Liqo

Mahasuci Alloh yang menjadikan segala sesuatu indah, pada waktunya

Ku temukan diriku hari itu. Hari dimana aku mengenal tarbiyah . Sebuah pendidikan Islam yang bukan sembarang pendidikan, tapi pendidikan Islam yang istimewa. Dalam tarbiyah itu aku dibina untuk menjadi seorang muslimah yang kaffah, merasakan indahnya Islam, dan yang paling indah, mengenal ukhuwah.
Hari pertama aku liqo – sebuah tarbiyah – ku kuatkan azzamku. Dalam hati aku berdo’a, “Rabb, aku memohon petunjuk dan bimbingan-Mu agar aku istiqomah di jalan-Mu, ridhoiku dengan jalan yang sedang kutempuh,” Dengan mengucap bismillah aku melangkah ke tempat pertama dimana aku liqo.
Sesampainya di tempat itu, sudah ada seseorang yang menungguku, menyambutku dengan senyuman yang tulus dan ikhlas. Wajahnya memancarkan ketaqwaan, menghiasi keindahan akhlaknya, dialah murobiahku. Ku ucap salam kepadanya, dengan segera ia menjawab salamku sambil merangkulku, hatiku kembali berkata, “Rabb, kuatkan ikatan ini, kumpulkan kami dalam syurga firdaus-Mu, ridhoiku dengan ukhuwah ini.”
Tahap demi tahap aku mengikuti liqo. Dimulai dengan pembacaan basmallah, dibuka dengan tilawah, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan antara murobiah dengan mutarobi. Setelah itu murobiahku mulai memberikan taujih.. Penjelasan mengenai makna Syahadatain adalah materi pertama yang aku terima dalam liqo. Subhanallah, taujihnya sederhana tapi begitu mendalam dan mudah dicerna oleh hati dan pikiran. Aku larut dalam penjelasan yang disampaikan oleh murobiahku.
Tak terasa waktu sudah sore, murobiahku mengakhiri taujihnya dengan membaca hamdalah. Akhirnya liqo pun selesai, ditutup dengan pembacaan hamdalah, istighfar, dan do’a kafaratul masjid. Kami pun harus berpisah sore itu.
Sebuah perubahan telah menantiku ketika aku mengenal halaqoh, berubah untuk menjadi lebih baiik, “Bisakah aku istiqomah dan tsiqoh dengan semua ini, aku ingin berubah ya Rabb,” Kita tidak akan berubah jika kita terus menanti perubahan itu datang dengan sendirinya, sedang kita berdiam diri tanpa melakukan sesuatu yang membuat kita berubah, berubah menjadi lebih baik tentunya.
Aku berlindung kepada-Mu dari setiap rasa takut yang mendera. Hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakal, hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Cukuplah Engkau sebagai pelindung dan penolong. Wallahu a’lam

Minggu, 18 Oktober 2009

About My Wish


100 Harapanku, 1000 Harapanku... Akankah?

Hai Tersenyumlah

MediaMuslim.Info – Tertawa sewajarnya merupakan obat kecemasan dan pelipur kesedihan. Dalam senyum terdapat kekuatan yang menakjubkan dalam menggembirakan jiwa dan menyenangkan hati, sehingga Abu darda berkata: “Sesungguhnya aku akan tertawa hingga hatiku akan terhibur.” Tertawa merupakan puncak keceriaan, kelegaan dan keriangan, asalkan tidak berlebihan, dengan sewajarnya, dan tidak di maksudkan mengejek atau mencemooh: “Jangan terlalu banyak tertawa, karena terlalu banyak tertawa akan mematikan hati.”

Hakikatnya, Islam adalah agama yang dibangun atas dasar keseimbangan dan keadilan, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak, maupun tingkah laku. Oleh karena itu, janganlah anda masamkan raut muka anda sehingga menakutkan orang yang melihat. Jangan pula anda tertawa terbahak – bahak. Akan tetapi, tampilkanlah wajah yang tenang, selalu berseri dan enak dipandang, sehingga menyenangkan orang yang memandang.

Kalau kita diminta memilih antara harta yang banyak atau jabatan terhormat dan jiwa yang tenang penuh keceriaan, tentu anda akan memilih yang kedua. Apa artinya harta jika jiwa penuh kemuraman? Apa artinya pangkat dan jabatan jika jiwa terkekang? Apa artinya kecantikan istri bila ia selalu cemberut dan menjadikan suasana rumah seperti neraka? Sungguh lebih baik seribu kali lipat istri yang tidak terlalu cantik tetapi mampu menciptakan suasana rumah seperti surga.

Senyum yang tampak secara lahir tidak akan bernilai bila muncul dengan pura – pura dan untuk menutupi seseorang yang berperangai menyimpang. Lihatlah bunga juga tersenyum; hutan tersenyum; dan lautan, sungai, langit, bintang, burung, semuanya tersenyum. Senyum mereka itulah senyum yang tulus.

Jiwa yang senantiasa tersenyum akan melihat kesulitan dengan nyaman sambil berusaha mengatasinya. Jika mereka melihat sebuah persoalan, mereka tersenyum dan tetap tersenyum ketika mampu mengatasinya. Sebaliknya, jiwa yang muram akan akan melihat kesulitan dengan kesedihan. Bila menemui kesulitan, ia akan meghindar atau membesar-besarkannya, semangatnya melemah dan berandai andai dengan kata-kata “kalau”, “bila”, dan “jika”.

Betapa kita amat membutuhkan senyuman, keceriaan wajah, kelapangan dada, kemrahan hati, kelemahlembutan, dan keramahan. “Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mewahyukan kepadaku (Rasululloh Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam) agar kalian bersikap tawadhu’ hingga tidak ada seorang pun yang berbuat zhalim terhadap orang lain.”

Sumber : http://qalbusalim.wordpress.com/

Rabu, 14 Oktober 2009

Silaturrahim Kader dan Simpatisan

Insya Alloh hari ahad, 18 Oktober 2008 acara silaturrahim kader dan simpatisan bertempat di GOR Kota Sukabumi pukul 08.00 s.d. selesai